Thursday, December 8, 2011

Mind-setting. Heart-setting.

Pernah ngerasa emosi atau sakit hati yang ngga ketulungan? Atau pernah berlarut-larut dalam kesedihan dan kegalauan? Intinya negative feeling deh. Hmm.. Everyone does, right? Pertanyaannya adalah apa ya penyebab kita bisa merasakan semua itu? Mungkin ada yang jawab ya karena ada orang lain yang jahatin kita, atau karena memang kita sedang berada dalam masalah atau kondisi sulit. Jadinya wajar aja kalo kita mengalami itu. Hmm.. Benarkah? Dulu gue pun juga menjawab seperti itu.

Beberapa minggu yang lalu, gue baca tweet dari Mas Jaya dan @ipphoright yang sebenernya udah pernah juga gue baca, tapi baru berasa jleb-nya sekarang. Isinya begini, "Sakit hati itu tidak akan terjadi kalau bukan diri kita sendiri yang mengizinkannya." Selain itu, dulu gue juga pernah baca kata-kata dari Mario Teguh atau Erbe Sentanu (gue lupa). Inti tulisannya, "Sayalah yang mengizinkan diri saya untuk sukses."

Nah!!

Kesimpulan yang gue dapet adalah, "Rasa senang, sedih, sakit hati, galau, bahagia, tenang, dsb hanya akan dirasakan oleh orang yang MENGIZINKAN hal-hal tersebut datang kepadanya. Orang lain atau kondisi/masalah sulit hanyalah pemicu, tapi tetep aja keputusan untuk memilih bahagia atau sedih ada di tangan kita sendiri."

Jadi kalo kita masih suka ngerasa galau atau sakit hati ngga jelas, sama aja dengan kita belum mengizinkan diri kita untuk bahagia. Dengan kata lain, kita (dengan sengaja) membolehkan diri kita untuk merasakan negative feeling itu.

Mungkin akan muncul pertanyaan, "Masa sih kalau lagi emosi atau sakit hati artinya diri kita sendiri yang mengizinkan? Itu kan suka datang dengan sendirinya, tanpa bisa kita handle. Lagian tiap orang pasti maunya pilih bahagia dong."

Menurut gue, sebagai manusia normal, wajar kalau kita bisa merasakan negative feeling itu. Tapi tidak wajar kalau kita berlarut-larut. Seharusnya negative feeling itu bisa SECEPATNYA kita netralkan dengan "mind-setting" dan "heart-setting" itu. Kenapa mesti dua-duanya? Emang apa bedanya? Berikut penjelasan (sok tau) dari gue: 

Mind---> logika, rasio. Heart ---> intuisi, perasaan

Mind setting ---> positive thinking. Heart-setting ---> positive feeling

Positive feeling and positive thinking will always attract good things surounding you

So, in my opinion, dalam kehidupan sehari-hari logika dan feeling harus dipakai secara seimbang dan ngga bisa digunakan salah satunya aja. Karena banyak hal di dunia yang ngga bisa diukur dengan logika, juga banyak hal yang tidak bisa kita ikutin berdasarkan perasaan aja. Memang ada saatnya di mana kita harus menggunakan salah satunya lebih dominan. Tapi, di situlah peran mind-setting dan heart-setting supaya kita bisa menggunakan logika atau perasaan kita dengan bijak.

Pertanyaan berikutnya adalah, "Terus gimana caranya men-setting hati dan pikiran supaya tetap positif?"

Tiap orang sepertinya punya cara yang berbeda. Ada yang harus menyendiri dulu untuk menetralkan pikiran hingga positif kembali, ada juga yang perlu meminta orang lain untuk mengingatkan. Yang jelas gimana pun caranya, harus bisa secepatnya back to positive. Dulu gue pernah menerapkan cara "membuang energi negatif di atas kertas". Yup, gue menulis segala macem uneg-uneg then buang ke tempat sampah. Terus gue anggep semua negative feeling itu udah ilang ke dalam tempat sampah. 

Tapi kalau sekarang gue lebih menerapkan semacam sosok "wasit" dalam diri gue. Nah sosok ini tugasnya memberi penilaian terhadap diri gue. Setiap saat gue akan selalu bertanya sama dia, "Ini gue lagi dalam aura positif atau negatif, Sit?"

Jadi si "wasit" ini perannya netral dan ngga boleh terpengaruh sama kondisi apapun yang sedang gue alamin. Dari situ barulah logika dan feeling gue harus bisa dinetralisir dan dikembalikan ke energi positive. Yang jelas ego juga mesti dituruniiiiin banget untuk bisa melihat segala sesuatu dengan jernih.

Btw, kok rasanya gue kaya punya banyak personality gini ya? Hehe.. Intinya gue cuma pengen men-setting pikiran dan hati, sehingga gue sadar bahwa apa yang gue rasakan itu sepenuhnya atas seizin diri gue sendiri.

Hmmm.. Mungkin akan ada yang berkata, "Yah kalau ngomong begini doang mah gampang. Tapi faktanya kan susah men-setting hati dan pikiran biar tetap positif."

Yup, gue juga ngga bilang ini gampang. Tapi biasanya sesuatu yang terasa sulit karena kita-nya yang belum biasa. Padahal kalau sudah biasa, lama-lama jadi bisa dan terasa gampang. Yang harus kita lakukan sekarang, hanya MEMBIASAKAN diri untuk men-setting pikiran dan hati ke gelombang positif, walaupun susah. Inget aja ini; kalau kita belum merasa bahagia, artinya diri kita sendiri yang belum mengizinkannya. Bahagia atau galau itu pilihan, bukan takdir. :)

Eh, dari tadi gue nulis apa sih? Kaya udah bener aja guenya. Haha.. Yaudah deh. Sekian saja.
Gue posting ini tujuannya hanya untuk share kok, bukan untuk menggurui. Lebih tepatnya gue posting ini buat mengingatkan diri gue sendiri biar ngga labil. Hehe.. 

~Salam Bahagia Untuk Kita Semua~ :D

0 comments:

Post a Comment

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hosted Desktop