Sunday, June 17, 2012

Sehangat Serabi Solo


*Cerita flash fiction ini dibuat untuk permainan #15HariNgeblogFF day 6, dengan judul "Sehangat Serabi Solo."


Pasar Klewer, Solo


Kamu lahir dari rahim wanita hebat yang ada di sampingku ini.

“Sing motif Sido Mukti apik-apik yo.” kata Ibumu. Oh bukan Ibumu, tapi Ibu kita.

Tangannya sibuk membentangkan kain-kain batik yang tertata di salah satu kios Pasar Klewer, pusatnya batik di kota Solo. Dengan bahasa Jawa kental, Ibu melakukan tawar menawar dengan sang penjual yang sudah dikenalnya sejak lama. Aku menyimak walau kurang paham bahasanya. Yang ku tangkap, Ibu membeli kain batik dalam jumlah banyak dan corak yang berbeda-beda. Ada saudara di luar kota yang minta dikirimkan batik untuk dijualnya lagi di sana. Kata Ibu, lumayan bisa dapat komisi dari dia.


Kamu dididik oleh wanita yang begitu menyayangimu ini.

“Nduk, buat Bayu kita belikan juga ya. Kemeja lengan pendek atau panjang ya?” tanya Ibu, menanyakan pendapatku tentang kemeja batik yang hendak dipilihkan untukmu.

“Oh.. atau beli yang model sarimbit ini aja ya, Nduk. Jadi sepasang, buat kamu dan Bayu. Bagus ini motifnya. Tuh kamu tambah ayu kan.” kata Ibu lagi, seraya membentangkan baju sarimbit, yaitu jenis batik yang dirancang sepasang untuk laki-laki dan perempuan dengan motif yang sama, seperti kaos couple.

Aku tersenyum mengangguk. Aku percaya pada pilihan Ibu. Ibu paham benar akan batik yang cantik.


Kamu dibesarkan oleh wanita tangguh.

Selesai memborong beberapa kain dan pakaian batik, aku dan Ibu berjalan menyusuri lorong yang berderet kios-kios di sampingnya. Kaki kami pun melangkah menuju emperan toko di bagian luar.

“Ibu dulu berjualan di situ, Nduk.” ucap Ibu sambil menunjuk salah satu bagian emperan pasar.
Sembari berjalan, Ibu bercerita tentang bagaimana dulu beliau berjualan batik dengan modal pas-pasan. Tidak punya kios, hanya berbekal setumpukan kain batik dan terpal yang ia gelar di pinggir emperan serta beberapa helai batik yang ia sampirkan di pundaknya. Dengan berjuang sendiri, beliau berhasil menyekolahkan anak-anaknya -- termasuk kamu -- hingga lulus kuliah. Semuanya persis seperti yang pernah kamu ceritakan. Bedanya, kali ini aku mendengarkan langsung dari Ibu. Aku semakin kagum. Terbesit pertanyaan dalam benakku. Bisakah aku sekuat Ibumu?


Kamu memperlakukan Ibumu, juga aku, bak permaisuri. Manis.

“Itu Mas Bayu udah dateng jemput, Bu.” kataku sesaat setelah melihat mobilmu berhenti tak jauh dari tempat kami berdiri.

Kamu dengan sigap turun dari mobil dan mengambil alih semua kantung plastik belanjaan kami. Kemudian memasukkannya ke dalam mobil satu per satu.

“Ini ada serabi. Tadi beli di depan Masjid Agung. Pasti pada laper kan. Ayo ayo.. dimakan mumpung masih hangat, Bu, Rin.” katamu mempersilahkan kami ketika sudah berada di dalam mobil.

“Nanti nyampe rumah langsung istirahat. Nanti tak pijitin satu-satu kaki dan tangannya ya.” sambungmu lagi sambil menyetir. Kamu memberikan apa yang belum kami minta. Bagaimana aku tidak tersentuh.

Sepanjang perjalanan pulang, pembicaraan kami bertiga terus mengalir. Tentang kota Solo, tentang masa kecilmu, juga tentang bahasa Jawa yang ingin ku pelajari lebih dalam.

Seminggu sudah aku pindah ke kota ini dan merajut kehidupan baru setelah menikah denganmu. Meninggalkan semua gemerlap kota Jakarta serta karirku sebagai manajer di salah satu bank asing. Semua orang di sekeliling, terlebih orangtuaku, menganggap aku bodoh sekaligus meragukan kesungguhanku untuk menetap di sini. Entahlah. Yang ku rasakan sekarang hanya satu. Berada di dekat kamu dan Ibu, aku menemukan kehangatan baru, sehangat serabi Solo yang ku gigit ini.


2 comments:

Anonymous said...

ayaaa... yang ini juga suka ceritanya!! >_<

Ayya Idris said...

telimikicih, raaay.. :)

Post a Comment

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hosted Desktop