*Cerita flash fiction ini dibuat untuk permainan #15HariNgeblogFF day 6, dengan judul "Sehangat Serabi Solo."
![]() |
| Pasar Klewer, Solo |
Kamu lahir dari rahim
wanita hebat yang ada di sampingku ini.
“Sing motif Sido Mukti apik-apik yo.” kata Ibumu. Oh
bukan Ibumu, tapi Ibu kita.
Tangannya sibuk membentangkan kain-kain batik yang tertata
di salah satu kios Pasar Klewer, pusatnya batik di kota Solo. Dengan bahasa
Jawa kental, Ibu melakukan tawar menawar dengan sang penjual yang sudah
dikenalnya sejak lama. Aku menyimak walau kurang paham bahasanya. Yang ku
tangkap, Ibu membeli kain batik dalam jumlah banyak dan corak yang
berbeda-beda. Ada saudara di luar kota yang minta dikirimkan batik untuk
dijualnya lagi di sana. Kata Ibu, lumayan bisa dapat komisi dari dia.
Kamu dididik oleh
wanita yang begitu menyayangimu ini.
“Nduk, buat Bayu kita belikan juga ya. Kemeja lengan pendek
atau panjang ya?” tanya Ibu, menanyakan pendapatku tentang kemeja batik yang
hendak dipilihkan untukmu.
“Oh.. atau beli yang model sarimbit ini aja ya, Nduk. Jadi sepasang,
buat kamu dan Bayu. Bagus ini motifnya. Tuh kamu tambah ayu kan.” kata Ibu lagi,
seraya membentangkan baju sarimbit, yaitu jenis batik yang dirancang sepasang
untuk laki-laki dan perempuan dengan motif yang sama, seperti kaos couple.
Aku tersenyum mengangguk. Aku percaya pada pilihan Ibu. Ibu paham
benar akan batik yang cantik.
Kamu dibesarkan oleh
wanita tangguh.
Selesai memborong beberapa kain dan pakaian batik, aku dan
Ibu berjalan menyusuri lorong yang berderet kios-kios di sampingnya. Kaki kami
pun melangkah menuju emperan toko di bagian luar.
“Ibu dulu berjualan di situ, Nduk.” ucap Ibu sambil menunjuk
salah satu bagian emperan pasar.
Sembari berjalan, Ibu bercerita tentang bagaimana dulu
beliau berjualan batik dengan modal pas-pasan. Tidak punya kios, hanya berbekal
setumpukan kain batik dan terpal yang ia gelar di pinggir emperan serta
beberapa helai batik yang ia sampirkan di pundaknya. Dengan berjuang sendiri,
beliau berhasil menyekolahkan anak-anaknya -- termasuk kamu -- hingga lulus
kuliah. Semuanya persis seperti yang pernah kamu ceritakan. Bedanya, kali ini
aku mendengarkan langsung dari Ibu. Aku semakin kagum. Terbesit pertanyaan
dalam benakku. Bisakah aku sekuat Ibumu?
Kamu memperlakukan Ibumu, juga aku, bak permaisuri. Manis.
“Itu Mas Bayu udah dateng jemput, Bu.” kataku sesaat setelah
melihat mobilmu berhenti tak jauh dari tempat kami berdiri.
Kamu dengan sigap turun dari mobil dan mengambil alih semua kantung
plastik belanjaan kami. Kemudian memasukkannya ke dalam mobil satu per satu.
“Ini ada serabi. Tadi beli di depan Masjid Agung. Pasti pada
laper kan. Ayo ayo.. dimakan mumpung masih hangat, Bu, Rin.” katamu mempersilahkan
kami ketika sudah berada di dalam mobil.
“Nanti nyampe rumah langsung istirahat. Nanti tak pijitin satu-satu kaki dan
tangannya ya.” sambungmu lagi sambil menyetir. Kamu memberikan apa yang belum kami
minta. Bagaimana aku tidak tersentuh.
Sepanjang perjalanan pulang, pembicaraan kami bertiga terus
mengalir. Tentang kota Solo, tentang masa kecilmu, juga tentang bahasa Jawa
yang ingin ku pelajari lebih dalam.
Seminggu sudah aku pindah ke kota ini dan merajut kehidupan
baru setelah menikah denganmu. Meninggalkan semua gemerlap kota Jakarta serta
karirku sebagai manajer di salah satu bank asing. Semua orang di sekeliling,
terlebih orangtuaku, menganggap aku bodoh sekaligus meragukan kesungguhanku
untuk menetap di sini. Entahlah. Yang ku rasakan sekarang hanya satu. Berada di
dekat kamu dan Ibu, aku menemukan kehangatan baru, sehangat serabi Solo yang ku
gigit ini.
2:13 PM
Ayya Idris

Posted in: 


2 comments:
ayaaa... yang ini juga suka ceritanya!! >_<
telimikicih, raaay.. :)
Post a Comment